Panas kota membakar bumi
fatamorgana mulai menyeringai
hiruk pikuk mulai beraksi
aksi hati mulai mencaci
keramaian hati kan mendera
Ratusan hati mulai terbang
demi harapan, asa, dan cita
demi hidup, jiwa, dan raga
Ratusan anak turun ke jalan
mengharap belas dan asih
demi harapan tuk hidup kembali
Ratusan mata enggan melihat
sebelah mata memandang
dengan acuh dan risih
Adik masih tetap sekolah?
kenapa adik melakukan ini?
apakah adik punya cita-cita?
apakah adik pengin sekolah sampai ke negeri cina?
Lontaran kata dan tanya
membeku dalam amarah
Dilema, pertanyaan, harapan
dilema kan memberi atau tidak
seperti kabut dalam angan
Apakah mereka butuh belas dan kasih?
akankah mereka mencapai citanya?
akankah rutinitas ini kan berlanjut hingga hari tua mereka?
atau
adakah kepedulian kan menjemputbya?
adakah secuil kepedulian kalian untuk mereka?
Caci dan maki kerap terlontar
belas dan asih pun kerap menghampiri
tapi semua ini tidak kan mengubahnya
Akankah mereka semua kan seperti ini?
Wahai para punggwa negeri ini
masa depan ada di tangan mereka
mereka butuh akan ilmu
untuk berlari, berkarya, berlomba
untuk menggapai cita, asa, dan harapan
mencapai negeri yng sepenuhnya merdeka
_dia yang peduli_